Archive for Mei, 2008

tompel di pipi…Arrgghhhh

baru sadar ni tadi pagi watu dandan mo kerja…

“Arrgghhhhh ko luka bekas jatoh gw kapan ari tambah bekas hini ya…. jadi kayak tompel ni

huhuhuhu” -jeritan hati dipagi hari-

uwuwuwuhhh sebel de… didempul berlapis2 ama bedak juga kaga mempan juga… dempul pake apa lagi ya, apa diamplas ajah ya..wkwkwkwkw

sebel gw jadi kayak tompel ni dipipi bawah mata. Untung bekas jaitan dijidat ga terlalu keliatan, cos ketutup ama jilbab gw ( thanks God , Engkau berikan manfaat laen selaen menutup aurat)

kayakna arus ditangani ama dokter kulit nie…hehehe

sekalian kontrol lagi masalah jerawat gw yang sebiji jagung2.. ga cuman sebiji c… banyak ding..

sia2 nie perawatan gw berbulan2 kapan ari, sekarang uda panen lagi

huh!!!

taw nie kok bnyak muncul lagi ya ampe rebutan gitu munculna, heran de narsis banget c jerawat yang atu ni… pengen nampang mulu!!!

apa karna lagi banyak masalah ya…

uummmm taw de

wanita itu…

“Wanita itu ibarat buku yang dijual di toko buku.”

Kata Ukhti Liana, mentor rohaniku ketika SMA.

Ia melanjutkan ceritanya “Begini asosiasinya.. di suatu toko buku, banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat buku.

Tiap pengunjung memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah para pengunjung tersebar merata di seluruh sudut ruangan toko buku.

Ia akan tertarik untuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus, sekalipun ia hanya membaca sinopsis ataupun referensi buku tersebut.

Bagi pengunjung yang berjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia beli.

Tentu ia memilih buku yang bersampul, karena masih baru dan terjaga. Transaksi di kasirpun segera terjadi. ”

“iya, terus kak..?” kataku dan teman-teman, dibuat penasaran olehnya.

“Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli sejati, maka buku yang ia rasa menarik,

bukannya ia beli, justru ia mencari buku dengan judul sama tapi yang tidak bersampul.

Kenapa? Kerena untuk ia dibaca saat itu juga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam, ternoda oleh coretan, sobek,

baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi buku yang tidak tersampul itu dibaca tidak oleh seorang saja.

Tapi mungkin berkali-kali, dengan pengunjung yang berbeda tetapi berjiwa sama,

yaitu bukan pembeli sejati alias pengunjung iseng yang tidak bertanggung jawab.

Lama kelamaan, kasianlah buku itu, makin kusam hingga banyak yang enggan untuk membelinya” Cerita ukhti Liana.

“Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan jilbab, maka itu adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya.

Lebih-lebih kalau jilbab itu tak hanya untuk tampilannya saja, tapi juga menjilbabkan hati.. Subhanallah..!

Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki yang telah Allah siapkan untuk mendampinginya menggenapkan ½ dienNya.

Dengan gagah berani dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli buku itu dengan transaksi di kasir yang diibaratkan pernikahan.

Bedanya, Pengunjung yang iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki yang kalau zaman sekarang bisa dikatakan suka pacaran.

Menguak-nguak kepribadian dan kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya tersakiti, merintih dengan tangisan,

hingga yang paling fatal adalah ternodai dengan free-sex.

Padahal tidak semua toko buku berani menjual buku-bukunya dengan fasilitas buku tersampul.

Maka, tentulah toko buku itu adalah toko buku pilihan.

Ia ibarat lingkungan, yang jika lingkungan itu baik maka baik pula apa-apa yang ada didalamnya. ” kata ukhti Liana.

“wah, kalau begitu jadi wanita harus hati-hati ya..!. ” celetuk salah satu temanku.

“Hmm, .apakah apapun di dunia ini bakal dapet yang seimbang ya, kak? Kayak itu deh, buku yang tersampul dibeli oleh pembeli yang bertanggung jawab. Itukan perumpamaan Wanita yang baik dan terjaga akhlaknya juga dapat laki-laki yang baik, bahkan insyallah mapan, sholeh, pokoknya yang baik-baik juga. Gitu ya, kak?” kata temanku.

“Benar, Seperti janji Allah SWT, “Wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (An-Nur:26). Dan, hanya Allah yang tak menyalahi janji. ” penjelasan ukhti Liana.

***

Empat tahun berselang.. diskusi itu masih mengena dihatiku.

Hingga pada suatu malam, pada suatu muhasabah menyambut usia yang bertambah, “Pff, Ya Allah… Tahu begini, Aku malu jadi wanita. ” bisikku.

Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanah sepanjang usia ini ada.

Pun menjadi wanita baik itu tak mudah. Butuh iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman.

Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang memilihnya, tapi Kau yang memilihkannya untukku.

Aku tahu, Allah penggenggam segala ilmu. Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan khusus,

hingga akhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikanku wanita.

Aku sadar, tidak main-main Allah mengamanahkan ini padaku.

Karena kutahu, wanita adalah makhluk yang luar biasa.

Yang dari rahimnya bisa terlahir manusia semulia Rasulullah atau manusia sehina Fir’aun.

Kalau banyak orang lain merasa bangga menjadi wanita, karena wanita layak dipuja, karena wanita cantik memesona,

karena wanita bisa dibeli dengan harta, karena wanita cukup menggoda, dan lain sebagainya, maka justru sebaliknya,

dengan lantang aku berkata.. “aku malu menjadi wanita!”

Ya, Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu gampang diiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga dirinya.

Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai sumber maksiat, memikat, hingga mengajak pada jalan sesat.

Aku malu menjadi wanita kalau ternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga sanggup memunculkan syahwat.

Aku malu menjadi wanita kalau ternyata tindak tanduk wanita sanggup membuahkan angan-angan bagi pria.

Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang bijak bagi anaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya.

Sungguh, aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai dengan fitrahnya.

Ya, Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita yang seperti Allah harapkan.

Aku malu, karena itu pertanda aku belum amanah terhadap titipan Allah ini.

Entahlah, dalam waktu 19 tahun ini aku sudah menjadi wanita macam apa.

Aku malu.. Bahkan malu ini berbuah ketakutan, kalau-kalau pada hari akhir nanti tak ada daya bagiku untuk mempertanggungjawabkan ini semua.

Padahal, setahuku dari Bunda Khadijah, Aisyah dan Fatimah, wanita itu makhluk yang luar biasa, penerus kehidupan.

Dari kelembutan hatinya, ia sanggup menguak gelapnya dunia, menyinari dengan cinta.

Dari kesholehannya akhlaknya, ia sanggup menjaga dunia dari generasi-generasi hina dengan mengajarkannya ilmu dan agama.

Dari kesabaran pekertinya, ia sanggup mewarnai kehidupan dunia, hingga perjuangan itu terus ada.

Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan rendahnya tekadku. Aku berlindung pada-Mu dari diriku sendiri.

Bantu aku Rabb, untuk tak lagi menghadirkan kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di dunia-Mu.

Hingga kelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan akhlak yang kuusahakan. Ya, wanita sholehah..”

wRitten by : Meralda Nindyasti

if…

jiKa…

Jika kita memancing ikan,.
Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kita mengambil Ikan itu.,
Janganlah sesekali kita lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja,.
Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kail.,
dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup..
Begitulah juga setelah kita memberi banyak pengharapan kepada seseorang.,
Setelah ia mulai menyayangi kita hendaklah kita menjaga hatinya,.
Janganlah sesekali kita meninggalkannya begitu saja.,
Karena ia akan terluka oleh kenangan bersama kita.,
dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingat..
Jika kita menadah air biarlah mengalir,.
jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh.,
cukuplah sekadar keperluan kita.,
Apabila sekali ia retak tentu sukar untuk kita menambalnya semula.,
Akhirnya ia dibuang,.
Sedangkan jika kita coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi..
Begitu juga jika kita memiliki seseorang,.
terimalah seadanya.,
Janganlah kita terlalu mengaguminya..
dan janganlah kita menganggapnya Begitu istimewa.,
Anggaplah ia manusia biasa..
Apabila sekali ia melakukan kesalahan..
bukan mudah bagi kita untuk menerimanya.,
Akhirnya kita kecewa dan meninggalkannya.,
Sedangkan jika kita memaafkannya..
boleh jadi hubungan kita dengannya akan terus, hingga ke akhirnya..
Jika kita telah memiliki sepinggan nasi yang pasti baik untuk diri kita.,
Mengenyangkan., Berkhasiat.,
Mengapa kita berlengah,. coba mencari makanan yang lain..
Terlalu ingin mengejar kelezatan.,
Kelak, nasi itu akan basi dan kita tidak boleh memakannya.,
kita akan menyesal..
Begitu juga jika kita telah bertemu dengan seorang insan..
yang membawa kebaikan kepada dirimu.,
Menyayangimu., Mengasihimu.,
Mengapa kita berlengah,. coba bandingkannya dengan yang lain..
Terlalu mengejar kesempurnaan..
Kelak, kita akan kehilangannya..
apabila dia menjadi milik orang Lain,.
kita juga akan menyesal…

teguran tuhan

Seorang pekerja proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi.

Pada suatu saat, ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerja yang ada di bawahnya.

Ia berteriak sekuat tenaga, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia.

Untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia lalu mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu kembali bekerja.

Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya tetap tidak berhasil.

Tiba-tiba ia mendapat ide.

Diambilnya sebuah batu kecil lalu dilemparkannya ke arah orang itu.

Batu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit temannya menengadah ke atas.

Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan berisi pesan yang hendak disampaikannya.

……

Ada kalanya Tuhan menggunakan pengalaman-pengalaman yang menyakitkan,

untuk membuat kita menengadah kepadaNya.

Berkat yang Tuhan berikan seringkali tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya.

Karena itu memang lebih tepat jika Tuhan menjatuhkan “batu” kepada kita.,

thk’s 4 er_h4 atas tulisannya

my prayer

Hidup ini sulit… hidup ini indah… hidup ini berjuta rasana

hhmmmmm sulit untuk diungkapkan, sulit untuk dipahami…

masa sulit adalah masa ujian dan rapor qt ditentukan nantinya… qt lulus ato ga.

semua tergantung qt, tergantung qt mau memilih maw menghadapi atau selalu larut

ijinkan aku berdoa bukan agar aku terhindar dari bahaya
melainkan agar aku tidak takut untuk menghadapinya…

Ijinkan aku memohon…
bukan agar penderitaanku hilang…
melainkan agar hatiku teguh menghadapinya…

Ijinkan aku tidak mengidamkan untuk diselamatkan dalam ketakutan dan kegeliashan…
melainkan mengharapkan akan kesabaran untuk memenangkan kebebasanku…

berkati aku sehingga aku tidak menjadi pengecut
dengan merasakan kemurahanMu dalam keberhasilan
melainkan biarkan aku menemukan genggaman tanganMu dalam kegagalanku…

indah pada waktunya…

lagi pengen melow ni….

kayakna pas banget buat q

huufffff…

aku minta kepada Allah bunga yang segar….
duberi aku kaktus berduri

Aku minta kupu – kupu…
diberiNya ulat

Namun tidak lama kaktus itu berbunga indah sekali…
dan ulat itu menjadi kupu – kupu yang cantik

Begitulah cara Allah mengasihi hambanya
selalu indah pada waktunya

my nimo…

sebenernya uda aga basi c q baru nonton film cintapucino hari gini…

huffff tapi gpp lah daripada ga sama sekali. uda lama banget pengen nonton ni film tapi ga kesampean juga. pas ada di bioskop ga pernah sempet ketonton… akhirna baru ketonton sekarang… huffff

lumayan juga c ni film, actingnya pas banget kayak orang yang bener2 lagi jatuh cinta… ya kayak gitu itu cewek kalo lagi jatuh cintrong. sempet kehipnotis juga q pas nonton tu film!!! huufffff

ngomongin my nimo… ummmmm q punya my nimo juga ga ya…..

kayaknya arus merecall ingetan waktu SMA dulu ni…

kalo q arus dihadepin ama situasi yang kayak gitu… ga taw de milih sapa ( ngarep… hweheheheh)

-peace-

wah2 udah de… bahas nostalgila waktu SMA ga akan ada abisna…