pagi2… bis saur n subuhan, nganggur banget ga ada kerjaan

q langsung onlen ajah de daripada tidur ga jelas

browsing2 dikit… eh aq coba cari di google ttg skoliosis. Ternyata banyak banget curhatan org2 yg kena skoliosis diwordpress ini ada WPnya riaparamita ada juga WPnya Ratih

akhirnya aq juga pengen cerita ttg gimana awalnya aq kena skoliosis. Cerita ini aq ambil dari salah 1 bab di skripsiq ( maksudnya males nulis lagi…. males*mode on). Oh ya, kalo ada yg belom taw, skoliosisq ini aq jadiin bahan untuk buat skripsiq yg berjudul “penerimaan diri penderita skoliosis terhadap kondisi tubuhnya”.

ada juga link lainya ttg skoliosis disini dan disini

ada juga kata2 penyemangat yg “gw banget”

begini ceritanya :

A. Awalnya

Sejak kecil aku memang seorang yang pemalu dan mudah minder. Itu dikarenakan tanganku yang selalu berkeringat dan aku anggap tidak wajar karena sangat mengganggu aktivitas. Bahkan pernah suatu ketika, aku pernah ditolak bergandengan tangan saat sedang bermain dengan temanku. Temanku berkata “ Gak mau aku gandengan tangan sama kamu, tanganmu basah “ sambil menyibakkan tanganku. Hal itu benar–benar terekam dalam otakku sampai sekarang. Aku merasa ditolak oleh teman. Aku merasa tidak pantas harus bergandengan tangan dengan teman. Aku malu dan sedih sekali saat itu. Sejak itu aku menjadi tidak percaya diri dengan segala yang aku lakukan. Aku takut teman–temanku yang lainnya juga akan menolak bermain dengan aku. Aku menjadi takut untuk bergaul dan lebih banyak menerima dengan pasrah segala perlakuan teman–teman yang ditujukan padaku dengan tujuan agar aku tetap dapat diterima dalam lingkungan.

Belum selesai permasalahanku dengan tangan yang selalu berkeringat, aku dikagetkan lagi dengan vonis dari dokter bahwa aku ternyata menderita skoliosis. Skoliosis adalah kelainan tulang belakang dimana tulang belakang melengkung kesamping kiri atau kanan. Untuk lebih lengkapnya bisa dibaca di wiki. Saat itu aku benar–benar bingung, penyakit apa itu. Aku tidak merasakan sakit apapun dalam tubuh. Semua itu terkuak oleh kecurigaan keluarga saat aku harus memakai kebaya di pernikahan tanteku. Saat itu usiaku sekitar 12 tahun. Keluarga besarku ( orang tua, tante, om, sepupu dll ) melihat ada yang aneh saat aku berjalan. Apalagi saat rambutku disanggul sehingga bahu dan punggungku tidak lagi tertutup oleh rambut. Mereka melihat cara berjalanku agak aneh. Akhirnya mereka menyuruh aku untuk berjalan beberapa meter kearah mereka. Setelah itu mereka benar–benar yakin ada yang aneh dalam tubuhku. Sebenarnya aku merasa malu dan tidak percaya diri saat mereka menyuruh aku berjalan seperti itu. Rasanya semua mata mau menerkamku dan menelan aku bulat–bulat.

B. Babak baru dalam hidup…

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, aku diperiksakan ke dokter yang ada di kantor ayah. Aku disuruh untuk membungkuk sampai 90 derajat. Setelah dokter memegang punggungku, dokter tersebut langsung berkata bahwa aku mengalami skoliosis. Aku bingung apa itu, bahkan mengucapkannya saja masih susah saat itu. Dokter hanya menjelaskan bahwa aku mengalami pembengkokan tulang belakang ke arah kiri. Saat itu aku hanya kaget dan bertanya–tanya mengapa aku sampai mengalami penyakit itu. Padahal aku merasa tidak sakit apa–apa. Keluarga aku pun melihat perkembangan fisik aku sebelum ini masih terlihat normal dan terlihat tidak ada keanehan berarti.

Aku belum memikirkan dampak apa yang akan terjadi selanjutnya atau hidupku akan menjadi seperti apa setelah mengalami penyakit itu. Aku dirujuk ke dokter spesialis tulang belakang yang ada di RS Haji Sukolilo. Aku lupa nama dokter yang menangani aku saat di RS Haji kala itu. Oleh dokter di RS Haji, aku disuruh untuk di foto rongten untuk mengetahui derajat kemiringan tulang belakangku. Aku terkejut setelah melihat hasil di foto rongten. Benar–benar diluar dugaan, ternyata tulang punggung aku tidak seperti orang lain pada umumnya. Benar–benar melengkung ke arah kiri. Saat itu yang ada dipikiran aku adalah bahwa penyakit yang aku alami ini tidak main–main. Dokter memberikan penjelasan panjang lebar tentang penyakit ini kepada orang tuaku. Aku hanya bisa mendengarkan dan mencoba mencerna baik–baik segala penjelasan dokter. Dokter menjelaskan bahwa penyakit aku ini tidak diketahui penyebabnya. Mungkin kesalahan kebiasaan posisi duduk saat kecil atau karena gen. Tapi jika karena gen, dalam keluarga inti ataupun keluarga besar aku, tidak ada yang mengalami skoliosis seperti aku. Awalnya orang tuaku heran dan bingung mengapa aku sampai mengalami skoliosis.

Masa – Masa Suram…

Saat masuk SMP, aku sangat tidak percaya diri. Masuk ke sebuah suasana yang baru dengan membawa beban berat di dalam pikiran aku bahwa aku tidak normal seperti anak–anak pada umumnya. Aku minder saat berkenalan dengan teman–teman yang baru. Aku takut teman–teman menolak aku. Entah itu karena tangan yang berkeringat ataupun karena penyakit ini. Penyakit ini justru membuat aku semakin terbebani dengan bayangan penolakan teman–teman. Pernah suatu ketika ada teman sekolah aku yang mengolok–olok bahwa cara jalan aku seperti bebek. Kemudian ada juga yang mengatakan bahwa aku penceng[1]. Aku sangat malu sekali dan sangat marah saat itu. Tapi aku tidak tahu harus marah kepada siapa. Apakah aku harus marah pada teman yang mengolok–olok aku saat itu atau pada keadaan. Atau justru aku harus marah pada Tuhan atas semua ini. Aku sempat menangis dan tidak menerima kenyataan mengapa harus aku yang mengalami semua ini. Apa salahku sehingga aku harus mengalami semua ini.

Saat pemeriksaan berikutnya , dokter menyuruh aku memakai brace untuk menahan laju pembengkokan tulang belakangku. Saat itu usiaku sekitar 13 tahun, tepatnya saat kelas 1 SMP. Awalnya aku tidak tahu apa itu brace. Aku hanya menuruti saja perintah dokter saat itu untuk memakai brace. Aku pun pergi ke tempat pembuatan alat tersebut. Ternyata pembuatannya sangat rumit sekali. Awalnya aku dipakaikan perban seperti mumi di bagian leher sampai pinggang. Lalu dibungkus lagi dengan bahan pembuat gips. Aku tidak boleh bergerak beberapa jam sampai gips tersebut mengering. Sungguh sangat melelahkan sekali.

Brace tersebut jadi beberapa bulan kemudian. Aku sangat shock setelah mengetahui bentuk brace tersebut. Brace tersebut 60 % terbuat dari kulit sapi dan 40 % lainnya terdiri dari besi. Aku tidak menyangka bahwa hari-hari 5 tahun kedepan aku akan memakai itu selama kurang lebih 23 jam dalam sehari, hanya saat mandi saja aku melepaskan alat tersebut. Aku berpikir bagaimana aku bisa menjalani semua ini. Bagaimana masa remajaku nantinya. Aku akan memakai alat tersebut disetiap kegiatanku, saat aku sekolah, bermain, bahkan sholat sekalipun. Rasanya semua masa depanku langsung terlihat suram. Cita-citaku saat kecil dulu yang ingin menjadi dokter anak dan pramugari langsung musnah. Rasanya seakan sulit sekali untuk mewujudkannya. Semangat hidup aku mulai redup.

{foto brace tampak depan}

{foto brace tampak samping}

Saat aku mulai memakainya, rasanya dalam hati ingin menangis. Kenapa aku harus memakai alat seperti ini? Aku ingin bebas seperti teman– teman. Aku ingin bisa berlari–lari kembali tanpa harus “menggendong” alat tersebut. Saat aku memakai alat itu, aktivitasku benar–benar terbatas. Bahkan untuk menoleh saja, aku harus menggerakkan seluruh badan aku karena leherku tidak bebas untuk menoleh ke kanan dan kekiri. Aku malu sekali saat ada orang–orang yang menatapku dengan tatapan yang tajam dan memandangku dari atas hingga bawah karena keanehanku saat itu. Kondisi tulang belakang aku saat memakai brace tersebut sudah agak melengkung sekitar 70 derajat. Jadi punggung kanan dan kiri sudah tidak simetris lagi.

Akhirnya aku memutuskan untuk memakai jilbab saat itu. Sebenarnya aku tidak mau memakai jilbab hanya untuk “ tameng”. Tetapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi agar dapat tetap leluasa bersekolah tanpa harus dilihat sebagai orang yang aneh karena meskipun telah tertutup baju, brace tersebut masih terlihat dan muncul sampai tepat di bawah dagu. Meskipun aku telah memakai jilbab, aku masih terlihat aneh karena dengan sekejap aku menjadi lebih gemuk terlapisi oleh brace tersebut dan aku menjadi seperti robot yang benar–benar nyata. Saat itu aku benar–benar menjadi orang yang tidak percaya diri dan sangat tidak mau tampil di muka umum karena tidak mau menjadi pusat perhatian dan dinilai orang. Rasanya dalam pikiranku, semua orang membicarakan keanehanku dan mengolok–olok aku. Hanya itu yang ada dalam pikiranku saat itu. Setiap kali ada yang melihat dengan pandangan yang aneh, aku hanya bisa diam saja dan menunduk malu. Bila ada yang bertanya, “apa itu?” aku hanya memberikan penjelasan yang sekedarnya saja bahwa aku memakai brace untuk terapi. Aku menjadi orang yang pemalu dan lebih sering menyendiri dalam pergaulan. Jika aku tidak diajak bicara lebih dulu oleh orang lain, jarang sekali aku dapat memulai pembicaraan. Aku takut orang lain tidak menghiraukanku karena saat itu aku sangat memandang rendah diriku. Rasa minder yang besar sangat mempengaruhiku dalam pergaulan dengan teman–teman dan lingkungan sekitar.

Tetapi terkadang ada beberapa teman dan guru aku yang memperlakukanku dengan sedikit berbeda karena kekurangan aku tersebut. Guru olah ragaku memberikan aku dispensasi yang luar biasa kepadaku karena aku tidak dapat mengikuti pelajaran olahraga dengan penuh. Saat teman– teman sedang mengikuti pelajaran olahraga, aku hanya bisa duduk di pinggir lapangan melihat mereka berolahraga. Ada rasa iri dalam hati mengapa aku hanya duduk–duduk saja melihat mereka asyik bermain di tengah lapangan. Aku hanya dapat menjadi penonton saja. Pedih hati ini karena aku tidak dapat melakukan apa yang teman–teman bisa lakukan. Rasanya aku ingin membuang brace yang aku pakai dan langsung berlari dan bergerak sesuka hati dengan teman–teman saat itu. Tapi apa dayaku saat itu. Aku tidak dapat melakukan apa–apa. Yang dapat aku lakukan saat itu hanyalah menangis dalam hati dan berpura–pura tertawa melihat keceriaan teman–teman saat itu. Olahraga yang boleh aku lakukan hanyalah berenang. Hampir 3 kali dalam seminggu aku berenang dengan guru renangku. Saat dirumah, aku juga melakukan fisioterapi dengan gerakan–gerakan khusus seperti bergelantung pada sebuah besi dan lain sebagainya. Setelah aku rasakan, pembengkokan tulang belakang aku tidak terlalu drastis saat memakai brace. Badan aku tetap terjaga tegak sepanjang hari dan hal tersebut meminimalisir pembengkokan tulang belakang yang pesat. Aku tetap dapat bertambah tinggi mekipun tidak terlalu banyak.

Saat memakai brace tersebut, aku dan orang tua tidak diam begitu saja. Orang tuaku mencari penyembuhan alternative yang mungkin dapat mengembalikan posisi tulang belakang. Mulai dari dalam kota sampai luar kota aku jalani untuk mencari peyembuhan tersebut. Mulai dari yang pijat syaraf hingga yang menggunakan ramuan–ramuan. Aku dengan pasrah menjalani pengobatan tersebut hanya semata–mata agar aku dapat segera sembuh. Tetapi rasanya semua yang aku lakukan pada pengobatan alternative sia–sia. Tidak ada hasil yang signifikan yang dapat diperoleh dari pengobatan tersebut

Selamat Tinggal Brace… Selamat Datang Derita…

Akhirnya kurang lebih hanya 2 tahun aku memakai brace tersebut. Kira–kira sekitar usia 15 tahun aku melepaskannya. Keputusan ini aku ambil berdasarkan keinginanku sendiri. Aku benar–benar sudah tidak tahan menjalani hari–hari bersama brace. Badanku rasanya sakit semua membawa alat seberat 2 kg tersebut kemana–mana karena badanku harus selalu dipress dengan kulit sapi dan besi tersebut. Yang ada dalam pikiran aku saat itu adalah aku hanya ingin bebas dan tidak tersiksa lagi memakai alat itu. Aku sangat lega sekali saat benar–benar memutuskan untuk melepas brace tersebut selamanya. Saat kontrol ke dokter, orang tua mengatakan keluhan aku dan dokter tersebut merujuk aku untuk pergi ke dr. BB, seorang ahli tulang belakang yang terkenal di Surabaya.

Sejak saat itu aku beralih dari dokter yang ada di RS Haji ke dr. BB. Setelah orang tuaku berkonsultasi dengan dr BB, dokter tersebut menyarankan agar aku segera dioperasi. Orang tua sempat takut jika benar–benar menjalani operasi tersebut karena resiko yang akan terjadi sangat besar dan dapat membahayakan nyawaku. Ada dua pilihan yaitu aku selamat atau meninggal. Jika aku selamat pun ada dua pilihan lagi, yaitu tidak terjadi apa–apa padaku atau lumpuh total. Operasi ini sangat beresiko karena semua syaraf yang ada pada tubuh terpusat di tulang belakang. Jika ada kesalahan sedikit saja, akan menimbulkan hal yang fatal pada diriku. Aku benar–benar bingung saat itu, tapi yang ada dalam pikiran aku saat itu adalah aku sudah tidak mau lagi memakai brace. Apapun akan aku lakukan untuk dapat keluar dari penderitaan memakai brace itu. Saat itu aku tidak terlalu memikirkan resiko–resiko yang terjadi apabila aku melakukan operasi. Didalam pikiran aku hanya ada rasa “merdeka” atas tubuh aku karena sejak memakai brace aku seperti orang yang terpenjara dan tersiksa.

Akhirnya dengan segala pertimbangan biaya, kesehatan dan rasa ”merdeka” yang aku inginkan, orang tuaku menyetujui tindakan operasi tersebut. Aku menunggu saat yang tepat untuk dioperasi yaitu saat liburan sekolah yang bertepatan dengan liburan puasa, hari raya dan natal, tepatnya bulan Desember 2000. Ini dikarenakan agar aku tidak terlalu lama membolos dari sekolah. Itu terjadi kira-kira saat aku berusia 14 tahun menuju 15 tahun dan duduk di bangku SMP kelas 3. Jadi jeda antara melepas brace dengan operasi tidak memakan waktu yang lama.

Persiapan sebelum operasi memakan waktu yang lama dan proses yang panjang. 2 minggu aku harus menjalani terapi untuk meminimalkan pembengkokan tulang belakang. Aku harus berbaring ditempat tidur hampir 24 jam dengan kepala ditarik keatas menggunakan kain yang diberi beban seberat 3- 5 kg dan pinggang yang ditarik kebawah dengan menggunakan sebuah sabuk atau korset yang diberi beban seberat 10 kg. Bagi aku ini merupakan penyiksaan dalam bentuk berbeda. Aku harus berusaha bertahan dalam keadaan itu selama 2 minggu. Aku benar-benar tersiksa dan kesakitan sekali saat itu. Kadang aku merasa malu saat banyak pengunjung pasien lain yang melihat aku dengan pandangan yang aneh. Untungnya kamar aku berada di kelas 2 yang ada tirai pembatas dan hanya diisi oleh 3 pasien saja sehingga privicy aku lebih terjaga. Meskipun tidak kelas 1 atau VIP, aku sudah bersyukur karena aku menginap di rumah sakit ini tidak sehari atau 2 hari saja, tetapi berminggu–minggu sehingga akan memerlukan biaya yang banyak jika aku menempati kelas 1 atau VIP

Setelah menjalani terapi tersebut aku difoto rongten kembali dan dilihat apakah ada perbedaan derajat pembengkokan pada tulang belakangku dan ternyata ada sedikit perubahan yang cukup berarti. Aku harus tetap menjaga kondisi badan aku agar jangan sampai sakit atau drop agar saat operasi berlangsung tubuh aku dalam keadaan yang benar–benar fit.

Saat hari -H- operasi sudah menjelang, malam harinya aku benar–benar gelisah dan susah tidur karena memikirkan apa yang akan terjadi besok. Dengan bantuan doa dan semangat dari orang tua dan teman–teman, aku yakin bahwa tim dokter akan berhasil mengoperasi. Keesokan harinya saat akan menuju ruang operasi, aku benar–benar pasrah. Tidak ada pikiran macam–macam dalam diri. Keluargaku dirumah mengadakan doa bersama untuk kelancaran operasiku. Di rumah sakit aku didampingi oleh orang tua, saudara dan temanku. Saat didepan ruang operasi, aku menunggu dokter yang akan mengoperasi lama sekali dan tak terasa aku tertidur. Ternyata itu adalah efek dari obat bius yang diberikan saat sebelum menuju ruang operasi.

Entah bagaimana proses operasi berlangsung, aku tiba–tiba tersadar saat berada di ICU. Aku sangat ingat sekali mengapa bisa terbangun dari pengaruh bius total tersebut. Saat itu aku merasakan sakit yang luar biasa diseluruh tubuhku. Aku dipindahkan oleh hampir 10 orang saat itu. Padahal hanya untuk memindahkan dari bed operasi menuju bed ICU yang letaknya bersebelahan. Masing–masing memiliki tugas sediri–sendiri. Ada yang memegang kakiku, kepala, badan, tangan dan lain–lain. Semua mengangkat secara bersama–sama dalam waktu yang bersamaan agar tubuhku tidak bergeser.

Saat itu kondisi aku antara sadar dan tidak sadar. Aku diberitahu oleh salah seorang suster bahwa aku telah selesai dioperasi. Operasi yang dijalani dinyatakan berhasil oleh dokter. Tidak terjadi komplikasi apapun dan pen telah terpasang dengan baik. Awalnya aku tidak percaya bahwa aku telah menjalani operasi. Aku tidak sempat melihat ruang operasinya, pisau–pisau operasi ataupun alat–alat operasi. Aku pun tidak tahu bagaimana posisi tubuhku saat dioperasi, apakah terlentang atau tengkurap. Awalnya aku membayangkan dapat merasakan bagaimana punggung aku dibelah, di masukkan pen dan dijahit. Ternyata aku tidak merasakan semua itu. Apa yang aku rasakan saat itu adalah sakit yang luar biasa di sekujur tubuh aku. Selang infus, selang darah, selang morfin[2] dan selang –selang yang lain menghiasi ke dua tangan aku. Ternyata setelah operasi aku tidak dapat bergerak bebas. Aku tidak diperbolehkan berdiri ataupun duduk terlebih dahulu. Aku hanya boleh berpindah posisi tidur dari terlentang, miring kanan, terlentang kembali lalu miring kiri. Itu pun harus terjadwal. Selama 2 jam sekali aku harus berpindah posisi tidur dan aku harus dibantu oleh lebih dari 5 suster untuk memindahkan posisi tidurku. Rasanya benar–banar sakit saat tubuh aku harus bergerak atau berubah. Mungkin hal tersebut dikarenakan jahitan yang ada dipunggung aku masih belum kering benar dan sangat rawan sekali untuk terbuka. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana jika jahitan yang sepanjang kurang lebih 40 cm yang ada di punggung aku tiba–tiba terbuka.

Di dalam ruang ICU, aku hanya bisa melihat keluarga atau teman–temanku melalui kaca. Jika ingin berbicara, aku hanya dapat menggunakan telepon yang tepat berada di samping tempat tidur. Rasanya aku ingin berteriak dan mengatakan pada mereka bahwa aku sangat tersiksa, kesepian dan kesakitan. Aku harus melawan rasa sakit itu sendiri dan hanya ditemani oleh beberapa orang di samping tempat tidurku yang juga sedang berjuang melawan maut antara hidup dan mati. Apa yang dapat aku lakukan disana? Tidak ada, aku hanya dapat meratapi nasib dan menangis, mengapa aku masih juga harus tersiksa setelah melepaskan brace tersebut. keinginanku untuk merdeka dan bebas dari siksaan setelah melepas brace ternyata tidak dapat tercapai. Aku justru lebih tersiksa setelah menjalani operasi ini.

Hanya sekitar 4 hari aku berada di ruang ICU, setelah itu aku kembali lagi di kamar yang aku tempati sebelum aku operasi. Selama kurang lebih 2 minggu aku tetap tidak boleh bergerak dari tempat tidur. Apapun aku lakukan diatas tempat tidur. 2 minggu itu pula aku tidak dapat tidur dengan nyenyak karena setiap malam aku merasakan sakit yang luar biasa di bagian punggung. Morfin yang dulu aku pakai untuk menghilangkan rasa sakit sudah tidak diberikan lagi padaku. Jadi aku harus benar–benar menahan rasa sakit tersebut semampuku. Jika benar–benar tidak tahan, aku baru diperbolehkan meminum obat penghilang rasa sakit dari resep dokter. Ritual berpindah posisi tidur pun masih tetap dilakukan, namun frekuensi sudah berkurang. Saat diluar ruang ICU, sekitar 5 jam sekali aku berpindah posisi tidur. Itupun tetap dibantu oleh beberapa suster untuk berpindah. Di dalam lubuk hati aku berpikir, aku benar–benar orang yang tidak berdaya dan tidak berguna, sampai–sampai pindah posisi tidur pun aku harus dibantu oleh beberapa orang. Hati aku menangis dan teriris saat itu.

Setelah operasi ini juga aku beberapa kali di foto rongten dan aku benar–benar melihat ada sebuah pen yang diikatkan ke tulang belakangku. Sehingga teknik operasi yang dilakukan oleh dr. BB adalah menarik dan menyangga tulang belakang aku dengan mengikat pen dengan tulang belakang. Aku benar–benar shock awalnya saat melihat ada benda asing berada dalam tubuhku.

beberapa hari kemudian aku dibawa ke RSUD dr. Soetomo untuk pemasangan gips. Gips dipasang disekujur tubuh aku mulai dari leher hingga pinggang selama 3 bulan. Mirip sekali seperti baju tidak berlengan pada umumnya. Awalnya aku merasakan biasa saja, hanya panas dan agak berat. Ternyata lama kelamaan aku merasa sangat tersiksa karena aku hanya dapat mandi selama 1 bulan sekali. Tiap sebulan sekali aku harus kembali ke rumah sakit untuk bongkar dan pasang gips. Aku sangat tersiksa apalagi jika sudah mulai gatal dibeberapa bagian, tetapi aku tidak dapat menggaruk atau memegang bagian tersebut karena tertutup gips. Itu benar–benar hal yang sangat menyiksa dan menyebalkan. Orang tuaku sangat menjaga aku agar jangan sampai ada nyamuk atau semut yang masuk ke dalam gips. Jadi total aku menginap di rumah sakit dari awal masuk sampai pulang untuk pertama kalinya kerumah adalah sekitar 40 harian.

Ada kejadian yang hampir membuat aku berpikir bahwa aku tidak dapat hidup lebih lama saat pemakaian gips di bulan–bulan terakhir. Saat itu kondisi tubuhku sedang tidak baik dan aku mengalami batuk yang parah. Entah mengapa aku merasa sesak napas saat itu. Aku benar–benar susah sekali untuk mengambil napas. Dadaku terasa tertekan oleh gips. Saat itu aku benar–benar sudah tidak kuat lagi untuk bernapas. Dirumah hanya ada mama. Mama memutuskan agar aku segera dibawa kerumah sakit karena melihat kondisi aku yang tidak memungkinkan lagi untuk bertahan dirumah. Saat itu hujan turun dengan lebat dan tidak ada kendaraan yang dapat mengantar kami ke rumah sakit. Akhirnya mama meminta bantuan mobil tetangga untuk mengantarkan aku ke rumah sakit Vincentius a Paolo ( RKZ ). Di perjalanan, sepanjang jalan benar–benar macet karena banjir di daerah Jl. Mayjen Sungkono dan Jl. Ciliwung sudah sangat tinggi. Di dalam mobil aku hanya dapat berdoa ”Ya Tuhan aku tidak mau mati sekarang, aku tidak mau mati sekarang… aku masih ingin hidup. ya Tuhan berilah aku jalan untuk dapat segera kerumah sakit dengan cepat” hanya itu doa yang dapat aku ucapkan dalam hati sambil menangis dan napas yang tersengal–sengal. Aku hanya dapat pasrah mudah–mudahan mobil yang aku tumpangi tidak mogok dan dapat menerjang banjir yang makin meninggi itu.

Akhirnya aku dapat sampai di RKZ dengan selamat dan langsung di larikan ke UGD rumah sakit tersebut. Aku diberi tabung oksigen dan semua riak yang ada dalam tenggorokan disedot keluar. Ternyata setelah itu aku dapat bernapas dengan lancar tanpa bantuan tabung oksigen sekalipun. Karena dirasa telah baik–baik saja, aku diperbolehkan pulang oleh dokter.

Hanya beberapa menit aku sampai rumah, dada aku kembali terasa sesak dan susah untuk mengambil napas. Tidak mau mengambil resiko seperti sebelumnya karena hujan masih turun dengan lebat, mamaku kembali membawa aku kerumah sakit terdekat yaitu Mitra Keluarga. Ternyata setelah sampai sana, aku tidak hanya diberi bantuan oksigen, tetapi aku harus menjalani rawat inap. Saat itu aku tidak tahu mengapa aku harus rawat inap. Yang ada di dalam pikiran aku saat itu adalah mengapa aku selalu hanya dapat merepotkan dan membuat khawatir orang lain.

Setelah tidak memakai gips lagi, aku harus extra hati–hati dalam segala hal. Aku mulai belajar berjalan tanpa bantuan apa–apa. Setelah dirasa aku dapat mandiri berjalan, aku baru boleh bersekolah kembali. Aku sudah bosan keluar masuk rumah sakit. Aku ingin dapat bersekolah kembali dengan lancar tanpa harus terbayang–bayang jadwal rutin mengunjungi rumah sakit. Saat sudah bersekolah, aku tidak boleh membawa atau di bonceng dengan sepeda motor terlebih dahulu, berlari, berolahraga[3] dan lain–lain. Setelah masa operasi ini, aku bertanya kepada dokter mengapa tulang aku tidak bisa benar–benar lurus dan masih bengkok. Dokter hanya bisa mengatakan bahwa tulang tersebut tidak akan bisa benar–benar lurus kembali karena akan dapat menyebabkan patah jika terlalu dipaksakan untuk ditarik. Pen tersebut akan menjaga tulang aku agar tidak bertambah bengkok. Aku kecewa mendengar penjelasan dokter tersebut. Saat itu yang aku inginkan adalah tulang aku benar–benar lurus dan badan aku kembali tegak. Rasanya tidak ada perubahan berarti dalam tubuh aku setelah operasi. Penderitaan aku sebelum dan sesudah operasi rasanya sia–sia. Aku benar–benar kecewa. Tetapi dokter memberi semangat pada aku dan mencoba menghiburkan aku bahwa aku sudah terlihat lebih baik daripada dulu. Memang ada muncul kepercayaan diri kembali, tetapi sangat sedikit.

hhhmmmm sekian cerita dari saia dengan beberapa editan disana sini supaya enak bacanya…. semoga berguna untuk temen2 skoliosis lainnya… ohya bagi temen2 penderita yg maw operasi, jangan takut yah baca cerita operasiq, tu operasi jaman ga enak… dah 8 taun yg lalu. Sekarang pasti ada alat2 yg lebih canggih yg ga bakalan terlalu ngerepotin qt

ohya emng ceritanya berakhir sampe disitu ajah, sebenernya masih panjang…. tapi ntar kalian pada mabok lagi bacanya… hhohohohoho


[1] miring dalam bahasa jawa

[2] untuk penahan rasa sakit

[3] kecuali berenang