Innalillahi wainnalillahirojiun….

di bulan puasa yg suci ini, ada ajah kejadian yg bikin hati ini miris.

mawna berniat baik, ehhh malah dapet musibah,

mawna dapet duit, eh malah dapet ajal

nasib… nasib…

ni cerita selengkapnya tentang pembagian zakat H. Syaikhon, pengusaha sukses asal pasuruan :

Maksud hati ingin membantu fakir miskin dengan zakat Rp 30.000, tapi malah berujung tragedi tewasnya 21 orang, satu kritis, dan 12 orang terluka. Atas keteledoran itu, kini Syaikhon, istri, dan tiga anaknya beserta belasan panitia dibawa ke Mapolres Kota Pasuruan. Mereka diamankan dari amarah warga.

Radar Bromo (Jawa Pos Group) melaporkan, kejadian yang memilukan umat Islam yang sedang menjalani ibadah puasa itu berawal dari keputusan Syaikhon untuk kembali menerapkan pola pembagian zakat masal. Pengusaha kulit dan peternak sarang burung walet tersebut mengundang warga ke rumahnya di mulut Gang Pepaya Jalan Wahidin Selatan, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, untuk menerima uang tunai Rp 30 ribu per orang.

Undangan bagi-bagi duit di tengah ekonomi sulit seperti sekarang itu kontan menarik ribuan orang untuk datang. Apalagi, jumlah yang dibagikan tahun ini lebih besar daripada tahun lalu yang hanya Rp 25 ribu. Umumnya warga mendengar adanya pembagian uang Syaikhon itu dari mulut ke mulut. Sebagian menguping siaran Radio FM Ramapati Pasuruan. ”Sedekah itu juga diumumkan di radio,” ungkap salah seorang warga.

Mereka yang berbondong-bondong ke rumah Syaikhon bukan hanya tetangga sekitar, tapi juga dari daerah pedesaan wilayah Kabupaten Pasuruan yang berjarak sekitar 20 kilometer. Bahkan, ada beberapa yang datang dari luar kota seperti Jember dan Kediri. Ingin mendapat lokasi terdepan, mereka nyanggong (menunggu) pembagian zakat di depan rumah Syaikhon sejak usai sahur.

Melihat warga yang datang membeludak, panitia yang semua berasal dari keluarga Syaikhon memutuskan memindah lokasi pembagian zakat dari rumahnya ke musala Al Raudatul Jannah yang berjarak sekitar 10 meter. Mulut Gang Pepaya sampai samping musala ditutup gedek (anyaman bambu).

Di samping musala itu kemudian diberi celah untuk pintu masuk. Semua calon penerima zakat harus melalui pintu masuk tersebut, kemudian diberi tanda tinta merah di tangannya. Selanjutnya, mereka mengantre di depan musala yang berpagar besi. Di depan musala ada tanah lapang 8 x 4 meter. Di tempat itu panitia menyediakan 13 tenda kecil.

Jumlah warga yang datang ke rumah Syaikhon diperkirakan mencapai belasan ribu orang. Angka persisnya simpang siur. Ada yang menyebut kerumunan manusia itu mencapai 30 ribu orang. Warga yang hampir semua ibu-ibu yang sebagian membawa balita tersebut meluber mulai Gang Pepaya sampai Jalan Wahidin, jalan raya yang menghubungkan Surabaya-Malang dan Probolinggo.

Sekitar pukul 08.00, Syaikhon dan putranya, Vivin, 30, dan Faruq, 28 terlihat sibuk menata pembagian zakat. Keduanya menata pagar untuk jalan akses penerima zakat di dalam musala. Beberapa saat kemudian, terlihat istri Syaikhon, Ny Hanifa, 50. Ia berjalan memakai tongkat sambil dituntun beberapa keluarganya menuju musala.

Mulai sekitar pukul 09.00, pembagian zakat dimulai. Pintu musala sebelah utara akhirnya dibuka panitia. “Masuknya satu satu. Jangan dorong-dorongan,” ucap seorang panitia kepada massa yang berkumpul di depan musala. Walau aksi pembagian zakat berada di dalam musala, namun jumlah massa yang berada di luar musala diperkirakan ada sekitar empat ribu orang.

Panitia yang bertugas membagikan zakat membuka pagar yang berukuran dua meter tersebut. Bukaan pintu pagar dibuka hanya cukup untuk satu orang yang masuk ke dalam musala. Panitia pun membatasi orang yang masuk ke dalam musala sebanyak lima orang sampai sepuluh orang. Jika yang di dalam telah menerima dan keluar lewat pintu selatan, barulah panitia membuka pintu pagar depan kembali. Begitu seterusnya.

Bagi orang yang telah menerima zakat sebesar rp 30 ribu, orang tersebut harus diberi sumba (pewarna) yang diletakkan di pintu keluar sebelah Selatan musala. Dua orang panitia zakat bertugas mencelupkan jari tangan massa yang telah mendapatkan uang. Sembari Ny Hanifa membagikan zakat, terlihat H Syaikhon berlalu lalang mengawasi. Sambil mengenakan baju hitam, lelaki tersebut memegang ponselnya. Namun ia lebih sering keluar dari dalam musala melalui pintu keluar.

Memasuki pukul 09.15, hampir sekitar lima puluh orang telah menerima zakat. Usaha mereka berlomba terbilang cukup semangat untuk memasuki pintu masuk musala. Sebab, mereka harus berdesak-desakan dengan sesama penerima. Ada pula massa yang kebingungan dengan anak yang digendongnya. “Mas, tolong anakku bawa ke dalam. Aku nggak kuat,” ucap Surti, calon penerima zakat, sambil mendorong ke atas anaknya melalui celah pagar. Tak pelak massa lain yang membawa anaknya ikut meminta tolong para wartawan yang meliput dari dalam musala.

Lama-kelamaan pun aksi dorong massa semakin brutal. Mereka ingin cepat-cepat mendapatkan santunan zakat. Hingga akhirnya barisan depan yang berada di pintu musala semakin terhimpit. Ada yang menjerit kesakitan dan banyak juga yang menangis histeris. “Mas..mas mbokku (ibuku) pingsan!” teriak salah satu dari mereka.

Tak pelak para panitia turun menolong massa yang pingsan tersebut. Terlihat pula putra Syaikhon, Faruq, turun langsung di tengah kerumunan massa untuk membawa beberapa orang yang mulai jatuh pingsan. Panitia yang lain sibuk menyiram air dari selang kran musala untuk membuyarkan massa yang menumpuk. Awalnya pertolongan dari pantia memang efektif. Siraman air dari panitia bisa sedikit melonggarkan udara dan hawa panas. Banyak dari mereka yang memanfaakan siraman air tersebut untuk minum.

Namun, sekitar pukul 09.30 aksi dorong-dorongan massa semakin hebat. Banyak kumpulan orang yang jatuh tergeletak ke tanah hingga akhirnya terinjak massa yang lain. “Yo’opo iki (bagaimana ini). Jangan dorong-dorongan, kasian yang jatuh,” ucap seorang panitia.

Sayang, penertiban panitia tidak membuahkan hasil. Justru massa semakin menjorok ke pintu masuk musala. Suasana kacau. Massa yang berada di pintu depan musala benar-benar terjebak dan terhimpit pagar.

Jeritan-jeritan histeris menyeruak, bercampur aduk dengan suara orang mengaduh-aduh. Mereka yang sadar dalam kondisi bahaya, berusaha menyelamatkan diri. Tapi, itu tidak mudah bagi yang sudah berada di tengah kerumunan. Tarik menarik demi penyelamatan diri terjadi. Ada wanita yang sampai bajunya robek di tengah tarik menarik itu.

Suasana semakin tak terkendali. Beberapa orang yang terjepit, terinjak, kehabisan napas, berjatuhan. Bahkan sebagian dari mereka ada yang terlihat digotong kedalam musala dalam keadaan meninggal dunia. Korban yang meninggal tersebut akhirnya dirujuk ke rumah sakit. Wartawan pun jadi ikut sibuk membantu mengevakuasi korban. Jatuh satu korban jiwa tak membuat kegiatan itu bubar.

Dengan adanya satu korban yang meninggal tidak menurutkan massa memberhentikan aksi dorong-mendorong. Mereka semua justru bingung tidak bisa menemukan jalan keluar karena jalan dari depan gang Pepaya ditutup. Kontan aksi dorong tersebut semakin menambah jumlah korban. Satu per satu pula korban berjatuhan. Para korban tewas di tempat kejadian lalu dikumpulkan begitu saja di jalan gang.

Sampai pukul pukul 10.15, sudah ada enam orang tewas. Itu belum termasuk mereka yang kritis hingga harus dilarikan ke RSUD dr Soedarsono Kota Pasuruan (RSUD Purut) yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi kejadian. Kondisi massa baru dapat dikendalikan ketika petugas Polsek Purworejo dan Polresta Pasuruan datang ke lokasi sekitar pukul 10.55. Sejumlah anggota yang datang dengan mobil patroli langsung mengamankan kerumunan massa. Kerumunan tersebut baru dapat dibubarkan sekitar pukul 11.10.

Bubaran kumpulan massa tersebut tidak serta merta mengatasi masalah. Sebab, ternyata korban meninggal dunia terus bertambah. Petugas pun langsung mengevakuasi para korban baik yang sudah meninggal maupun kritis dengan mobil patroli polisi dan kendaraan ala kadarnya macam pikap bak terbuka.

Sampai tadi malam, korban tewas dipastikan 21 orang dan satu orang kritis. Semua wanita berusia 30-67 tahun. Dua belas orang lainnya masih dirawat intensif di rumah sakit karena menderita sesak napas serta memar-memar.

Kepala Kepolisian Resor Kota Pasuruan Ajun Komisaris Besar Harry Sitompul menyatakan, umumnya korban tewas karena kekurangan oksigen, pingsan, dan terinjak-injak. Hal itu didasarkan pada hasil�pemeriksaan dalam (visum et repertum) terhadap jenazah para korban.

Menurut dia, akibat berdesak-desakan, para korban yang telah kekurangan oksigen jatuh pingsan dan terinjak-injak. Padahal, petugas keamanan dan petugas kesehatan tidak ada di lokasi kejadian, sehingga para korban tidak tertolong.

Sebanyak 21 korban tewas yang telah berhasil diidentifikasi itu sudah diambil keluarganya.�Sembilan korban luka masih dirawat di RSUD dr Soedarsono, Kota Pasuruan.

disunting dari jawapos